Jumat, 29 Januari 2016

Dua Jiwa, Satu Tubuh


Cerpen :Dua Jiwa, Satu Tubuh

“Dengarkan aku?” bisiknya perlahan.

“Iya, aku disini. Aku akan mendengarkanmu!”

“Kenapa aku tidak bisa melihatmu,” ujarnya lirih.

“Karena kita bersebelahan. Kamu di kanan dan aku dikiri,” kataku menjelaskan.

“Aku ingin selalu berada disisimu.”


“Iya, aku ada disisimu selalu dan selamanya.”

“Tetapi kenapa aku tidak bisa melihatmu dengan jelas?” tanyanya dengan nada tak berdaya.

“Itu, karena aku sudah tidak berada di depan kaca.”

“Pergilah ke depan kaca, biar aku bisa memandang dirimu. Aku rindu melihat senyumanmu.”

Aku tersenyum mendengarnya berkata demikian dan sesungguhnya aku juga ingin melihatnya, tetapi aku tidak bisa.

“Maaf, aku tak sanggup.”

“Kenapa?”

“Tubuhku lemah untuk berjalan,” elakku.

“Mari, aku ada disampingmu. Aku akan membantumu berjalan,” ujarnya memohon.

“Sungguh aku ingin melihat tatapan sandu dari mata indahmu itu, tetapi aku tidak sanggup berjalan,” ucapku bersedih.

“Kenapa demikian?”

“Karena aku sedang terbaring di jalan.”

“Karena itulah, aku bisa merasakan rasa dingin yang kamu rasakan?” tanyanya.

Aku mengangguk dengan lemah, “Iya seperti itulah adanya.”

“Kenapa kamu berbaring di jalan, sehingga aku merasakan dinginnya malam dan jalan ini?”

“Karena, seseorang menabrak kita. Mereka tidak menolong kita, mereka beranggapan bahwa kita ini adalah orang gila,” jelasku menahan air mata yang keluar.

“Mereka sungguh kejam, mereka tidak mengetahui tentang kita.”

Aku mengangguk lemah. “Iya mereka sungguh kejam, karena mereka memandang kita aneh!”

“Itu tidak benar. Kita tidak aneh, kita hanya dua jiwa dalam satu tubuh,” paparnya menjelaskan.

Aku menangis dan dia pun ikut menangis, aku merasakan sakit dan dia merasakan sakit yang sama. Sampai saat ini, saat aku berada di bawah langit malam, dia pun berada disini dan selalu menemaninku.

Tetapi kenapa mereka memandang aku dengan pandangan hina? Kenapa mereka hendak melenyakpan tubuh fana ini dengan menabrakku tanpa belas kasihan. Padahal aku tidak menganggu mereka, aku hanya berbicara dengan belahan jiwaku yang berada di dalam tubuh fanaku ini. Mereka selalu berteriak dengan sebutan, “GILA!”

“Apakah aku memang gila?” tanyaku pada malam.

“Tidak, tidak! Kita tidak gila, mereka yang menyebut kita gila adalah mereka yang gila. Karena mereka tidak mengenal kita dengan baik,” ucapnya lirih.

“Baiklah kalau begitu, aku ingin istirahat, malam ini semakin dingin,” seruku perlahan padanya.

“Baiklah, aku akan menemaninmu, kemari, aku akan memelukmu dalam dinginnya malam. Kamu akan merasa hangat dalam seketika,” janjinya yang terdengar samar-samar.

Aku tertidur dalam dekapannya dan aku merasa hangat. Dinginnya malam kian tak terasa, gelapnya malam makin pudar karena secara perlahan aku menutupkan mata. Aku tidak ingin membuka mata lagi selamanya. Aku ingin merasakan hangatnya pelukannya di malam ini.
***

Epilog:
DITEMUKAN WANITA YANG TERBARING BERLUMURAN DARAH KARENA KORBAN TABRAK LARI. TUBUH WANITA YANG BERDARAH ITU, KEDUA TANGANNYA SALING MENYILANG. SEAKAN-AKAN SEDANG BERPELUKAN. TUBUH TAK BERNYAWA ITU ADALAH WANITA YANG SELALU BERBICARA SENDIRI, KARENA SUDAH TIDAK WARAS.


Disuatu tempat dalam kamar yang berantakan dan ditemanin suara kipas yang mendayu, 29 Januari 2016.

Ditulis oleh : Arndt SP


Terima Kasih Atas Kunjungannya Teman
Judul: Dua Jiwa, Satu Tubuh
Ditulis Oleh Arndt Sp
Jika mengutip harap berikan link yang menuju ke artikel Dua Jiwa, Satu Tubuh ini. Sesama pecinta dunia blogger marilah kita saling menghargai. Terima kasih atas perhatiannya dan sudah membaca di sini. Salam Penuh Kasih dan Karya. Arndt SP

2 comments:

  1. wah, nice story... saya kira mereka memang punya dua kepribadian gt... ternyata... :D

    BalasHapus
  2. ternyata oh ternyata sesuatu yang berbeda ya sist hehehe....

    BalasHapus

Thanks to leave good and polite comments here

 

The words is WORLD Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang